Blogger Widgets

Jumat, 12 Juli 2013

THINK PAIR SHARE


MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE 
Menurut Slavin (2008: 257) metode pembelajaran Think-Pair-Share merupakan metode yang sederhana tetapi sangat bermanfaat yang dikembangkan oleh Lyman dari Universitas Maryland. Metode ini menempatkan pendidikan sebagai fasilitator bukan sebagai pemberi informasi. Pembelajaran Think-Pair-Share termasuk dalam strategi pembelajaran kooperatif.
Nurhadi (2005: 119-120) menjelaskan bahwa Think-Pair-Share menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa. Struktur ini menghendaki agar siswa kerja sama, saling melengkapi dan saling bergantung dalam kelompok kecil secara kooperatif.
Sedangakan Lie (2008: 56) berpendapat bahwa
” teknik bertukar pasangan ini memberi siswa kesempatan untuk bekerja sama dengan orang lain. Teknik ini bisa digunakan pada mata pelajaran dan untuk sama tingkat usia anak didik”.
Berdasar pendapat beberapa pakar diatas dapat disimpulkan bahwa metode Think-Pair-Share merupakan metode yang mudah, murah dan sederhana dengan mengelompokkan siswa secara berpasangan yang dapat meningkatkan interaksi siswa, kemandirian, tanggung jawab serta keaktifan siswa dalam belajar. Siswa dilatih untuk aktif dalam memecahkan masalah yang dihadapi dan berdiskusi dengan teman pasangannya.
A.    Karakteristik Model Pembelajaran Think-pair-share
1.      Langkah-langkah metode pembelajaran Think-Pair-Share sebagai berikut:
Langkah-langkah
Kegiatan Pembelajaran
Tahap 1
Pendahuluan
§  Guru menjelaskan  kompetensi yang harus dicapai oleh siswa
§  Guru menggali pengetahuan awal siswa melalui demonstrasi.
§  Guru membagi kelompok yang terdiri dari empat orang.
§  Guru menentukan pasangan diskusi siswa.
§  Guru memberikan tugas-tugas berupa soal kepada siswa.
Tahap 2
Thingking (berpikir)
§  Siswa mengerjakan soal secara individu.
Tahap 3
Pairing (berpasangan)
§  Kemudian siswa berpasangan dengan salah satu teman dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya mengenai tugas-tugas yang telah dikerjakan secara individu.
Tahap 4
Shairing (berbagi)
§  Kedua pasangan bertemu dalam satu kelompok untuk berdiskusi mengenai soal-soal yang telah dikerjakan.
Tahap 5
Diskusi Kelas
§  kelompok sukarela tampil didepan kelas untuk mempertasikan tugas-tugas yang telah dikerjakan.
Tahap 7
Penghargaan
§  Siswa dinilai secara individu dan kelompok.



B.     Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran TPS
1.      Kelebihan model pembelajaran TPS :
a)      Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial
b)      Siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok
c)      Siswa aktif membantu dan mendorong semangat untuk sama-sama berhasil
d)     Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok
e)      Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat
f)       Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois
g)      Meningkatkan kesedian menggunakan ide orang lain yang dirasa lebih baik
h)      Meningkatkan motivasi dan hasil belajar
2.      Kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe TPS :
a)      Membutuhkan koordinasi secara bersamaan dari berbagai aktivitas.
b)      Membutuhkan perhatian khusus dalam penggunaan ruangan kelas. Peralihan dari seluruh kelas ke kelompok kecil dapat menyita waktu pengajaran yang berharga. Untuk itu guru harus dapat membuat perencanaan yang seksama sehingga dapat meminimalkan jumlah waktu yang terbuang.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Putra, livaris. 2012.studySuccess. http://studysuccessful.blogspot. com/2012/08/model-pembelajaran-think-pair-share.html. diposkan pada selasa 07 Agustus 2012


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar